dear mbah kakung...

saat airmataku terurai....

menatap wajah tuamu yang terbujur kaku...
mendekap tubuhmu...
mencium keningmu...
mencium kakimu...dan bersimpuh...
sungguh duka ini terasa menyayat kalbu...
perih didada dan sesak yg teramat sangat...
kehilangan dirimu wahai panutan jiwaku...

Kuantar kau kejogja...peristirahatan terakhir
ketempat yang kau inginkan...
ketempat dimana kenangan masa kecilku singgah...
teringat...saat kau mengajakku kesawah...membuatkan aku mainan dan...
tersenyum senang manakala aku membantumu menggambilkan telur2 yang baru saja menetas
dipekarangan ternak ayammu...

Kemudian petimu diletakkan ditengan pendopo...
aku menjagaimu dengan duka yg masih kutahan...
tak berapa lama...banyak orang yg hadir untuk mengenangmu...
sangat banyak...tak berhenti hingga jauh malam...hingga keesokan harinya...
melebihi pesta pernikahan..
aku terharu....sungguh banyak yg mencintaimu dan kehilanganmu mbah...
duka ini bukan milikku sendiri...dan semakin tersadar...bahwa kau memang panutan
dr semua org yang mengenalmu...

dirimu memang pendiam...tetapi wibawalah yg tampak lewat bahasa tubuhmu...
jarang ada kata yg keluar dr bibirmu...tapi begitu kau bicara...selaksa petuah dan kata2 bermakna yg muncul...
Dirimu dikagumi banyak orang demikian diriku juga sangat mengagumimu...
bahkan dalam sakitmu...tak ada kata mengeluh yg keluar dari bibirmu...
jika kau saat ini terbaring kau telah menang mbah...atas nama hidup dan kehidupanmu...

Saat menuliskan inipun....hampir menangis kembali diriku...
merasa kehilangan yg amat sangat...
tapi...aku iklas mbah...karena aku percaya Kau tenang disisiNya...
banyak yang mencintaimu...mendoakanmu...dan mengasihimu...
bekal dirimu kesurga menemui Allah Bapa...
Aku yakin diriMu damai disurga...

doakan ya mbah...agar aku bisa meneladan dirimu...
bersahaja...berwibawa...tenang....dan iklas...
aku menyayangimu mbah...

(150609)

tak akan kutunggu lagi dirimu

karena kesia-siaan yang kudapat
terlalu banyak kata yang tak bermakna
yang pada akhirnya membuat semuanya menjadi tak begitu lagi indah...

(280509)

Aku tau kau mencintaiku dengan cara yang sederhana...

dan...mungkin itu adalah kelebihan yang kau punya...
walau masih tak kupahami...
memberikan utuh dirimu meskipun terkadang tak dapat ku mengerti maknanya...

kau mencintaiku dengan cara yang sederhana...
sebagaimana lembut tetesan hujan pada bumi...
sebagaimana hangat sang matahari pada dunia...
sebagaimana terang rembulan pada malam...
semua tak berlebih...dan memang seharusnya...

*LuV U papa
(280509)

Resah hati dalam kecamuk rindu yang tak bertepi...

tak ada yang bisa kusapa...
tak ada yang bisa kurengkuh...
tak ada yang bisa kutatap...
dan kau?... Taulkah direlung hati tersimpan indah dirimu?
lantas...bagaimana jiwa mesti tinggal dengan tenang?
jika dalam siksa rinduku kau juga tak tersadar...
Hai...Berpalinglah! lihat diriku!...
hati bergetar...
kukatakan sekali lagi...
"rindu ini untukmu"

(280509)

dan...bahkan kicauburungpun menyambut pagi...

matahari mulai menampakkan keagungannya sebagai penghantar hari...
dahan ranting bergemulai lembut disapa angin...
pagi yang indah...
lantas....mengapa diri masih terpekur... "TERSENYUMLAH"

(270509)

ini tidak adil untukku...

dan ini pasti menyakitkanmu...
juga menghempas segala asaku...
akhirnya...
diri teralu banyak menuntut...
sedang kau?hanya terpaku dan tak bisa berbuat apapun...


ternyata....

aku bukanlah bagian yg penting dalam hidupmu...
saat kau terdiam...menjawabpun tidak...sedang gundah hati merejam dalam hatiku...

tersenyum getir saat sadari diri terlalu terbuai...
kembali terpekur dengan banyak akhir kisah yg sama seperti ini...
dan...jika kembali aku berpikir...
"seharusnya tidak seperti ini"
mencoba mundur kebelakang...
dan...kembali berhati-hati...
untuk setiap kata yang kau rangkai...
kembali pada sejatinya diri...

salahkah?